Self Love, Penyakit atau Motivasi?

Ada pepatah yang mengatakan bahwa kelahiran, jodoh dan kematian adalah rahasia yang hanya diketahui oleh pemilik semesta, yaitu Tuhan Yang Maha Kuasa. Karena rasa cinta yang dikirimkan Tuhan, dua insan manusia dapat menikah sehingga lahirlah keturunan. Karena cinta yang menjadi dasar keduanya menikah dan menjadi jodoh yang dipersatukan sah di mata Tuhan dan Agama. Rasa cinta Pencipta kepada ciptaanNya pula lah yang membuat kematian menjadi hal yang pasti dialami setiap insan manusia yang bernyawa.

Apakah cinta hanya diaplikasikan untuk hal diluar diri kita? Sebelum mengklaim lebih jauh, bahwa bentuk cinta kepada diri sendiri (self love) merupakan dasar paling awal agar kita bisa mencintai segala sesuatu di luar diri kita. Namun, bagaimana jika terlalu mencintai diri sendiri? Apakah kita akan menjadi egois dan tidak lagi mau berbagi? Mari simak ulasan berikut ini mengenai self love.

Bukan Sekadar Makan Mahal atau Belanja Sepuasnya

Sumber: pexels.com

Biasanya, setelah menghabiskan sejumlah uang untuk membeli barang kesukaan atau mencoba makanan di restoran yang cukup mahal kita akan menyatakan, “Saya sudah bekerja keras, ini adalah bagian dari cara saya untuk menikmati hidup dan mencintai diri saya sendiri”. Pernyataan tersebut tidak salah. Perayaan atas keberhasilan atau kerja keras memang perlu untuk membuat kita lebih bersemangat menjalani rutinitas yang mungkin itu-itu saja. Karena itu, jangan menghakimi diri sendiri karena sudah menghamburkan uang. Namun jangan pula menjadikan aktivitas tersebut sebagai bagian yang harus dilakukan setiap waktu gajian tiba. Kita perlu memikirkan keberlangsungan finansial masa depan.  Hal lain yang perlu dipertimbangkan adalah memilih yang paling berguna bagi diri sendiri. Karena orang lain hanya bisa menilai tanpa merasakan apa yang sebenarnya kita rasakan.

Selalu Ada yang Merendahkan, Maka Jauhilah

Sumber: pexels.com

Memiliki hobi tertentu yang berbeda dengan orang lain bisa dijadikan sebagai salah satu bentuk nyata mencintai diri sendiri. Kita bisa puas menikmati karya kita, bahkan akan lebih puas lagi jika karya orisinil kita ikut dinikmati oleh orang lain. Tapi dibalik itu semua, pasti akan ada orang-orang yang hadir dengan sikap merendahkan kita. Tidak perlu emosi menghadapinya, cukup dengan menjauhi mereka untuk menghindarkan diri dari pengaruh buruk setiap ucapan mereka.

Mengambil keputusan yang sedikit berbeda dari orang lain juga akan menimbulkan kontroversi berupa pro dan kontra di antara sesama rekan atau relasi kita. Tidak perlu khawatir, meski kelihatannya sendirian, kita bukanlah orang gila, kita hanya berbeda dan orang lain hanya belum melihat indahnya perbedaan tersebut. Karena ada hadiah yang hanya Tuhan berikan untuk kita. Kita sendirilah kunci pembuka hadiah tersebut, yaitu sifat yang menarik dan tentunya berbeda dari sekeliling kita.

Kekuatan Diri Sendiri Lebih Dari 100%

Sumber: pexels.com

Untuk mengukur berat benda, kita biasanya menggunakan timbangan. Lalu untuk mengukur sejauh mana kemampuan kita, adakah alat yang sudah diciptakan? Sepertinya alat tersebut belum ada karena kemampuan dan kekuatan diri sendiri itu merupakan rahasia dari setiap orang yang tidak memiliki standar tertentu. Jika demikian, mengapa kita harus mengukur kemampuan hanya pada titik tertentu yang pada akhirnya akan membuat semangat kita semakin pudar?

Mencintai artinya memberi lebih banyak bahkan segalanya, dari apa yang dimiliki. Itulah sebabnya, percaya pada kemampuan diri sendiri yang jauh lebih kuat dari yang kita pikirkan merupakan bentuk nyata mencintai diri sendiri. Lakukanlah segala yang menjadi tanggungjawab kita sebagai bentuk usaha maksimal dari apa yang kita miliki, bukan karena ingin menyenangkan orang lain. Lakukan identifikasi ke sumber masalah terkait untuk mengetahui seberapa besar kemampuan kita dalam menghadapi masalah.

Lebih lanjut, agar kita tahu apa saja yang kurang sehingga kita bisa mengukur sejauh mana lagi kita harus berusaha. Misalnya jika kita digosipkan di tempat kerja, segera temui si penggosip. Paling tidak, kita akan menemukan perbaikan pribadi atas gosip yang beredar bukan? Ambillah suatu keputusan atau gebrakan besar atas masalah tersebut, agar kita sendiri terpacu untuk mengeluarkan tenaga ekstra dalam meraihnya.

Kebutuhan Diri Sendiri, Selanjutnya Orang lain

Orangtua mengetahui dengan jelas kebutuhan anaknya, sampai anaknya bertumbuh dewasa. Saat anak sudah dewasa, ada variabel yang tidak bisa mendapat campur tangan orangtua, yaitu soal perasaan kepada lawan jenis. Orangtua hanya akan menjadi pendukung atas setiap pilihan, dan penasihat jika dibutuhkan. Ketika kita menginjak usia dewasa, kita sendirilah yang memahami kebutuhan diri sendiri. Sama seperti memilih pasangan. Kita harus memilih pasangan yang paling kita butuhkan, baru membawanya ke hadapan orangtua dengan harapan orangtua akan ikut bahagia dengan keputusan kita.

Sumber: pexels.com

Tentu kita pernah mendengar ungkapan “Beli lebih banyak lebih murah”. Hal ini erat kaitannya dengan konsep berbagi antar sesama. Membagi apa yang kita miliki, setelah kebutuhan kita tercukupi, akan menambah level bahagia dalam diri kita. Kita memang tidak bisa menyenangkan semua orang sekaligus, tapi membagi apa yang kita miliki akan membuat kita bisa bercerita tentang rasa yang sama.

Demikianlah cara yang dapat dilakukan untuk menunjukkan kepada diri sendiri bahwa kita mencintai diri sendiri. Apakah Anda memiliki tips lain? Tinggalkan komentar untuk menjadikan perbedaan pilihan sebagai koleksi ide bagi para pembaca lainnya.

Sumber:

  1. https://lifestyle.kompas.com/read/2018/01/24/062000720/5-langkah-sederhana-belajar-mencintai-diri-sendiri?page=all